Sabtu, 05 Mei 2012
Selasa, 01 Mei 2012
Kamus Sufi Huruf J
Al Jabbâr : 1. Yang Maha Memaksa, Yang menerapkan kehendak-Nya dengan
cara pemaksaan pada segala sesuatu, dan kehendak wujud-wujud lain tidak
dapat mengatasi-Nya. Segala sesuatu tidak ada yang lepas dari
genggaman-Nya. 2. Salah satu Nama Indah Allah (asmâ al-husnâ).
Jabarut : 1. Alam Kemahaperkasaan, Alam Kerajaan, Alam Kemahakuasaan
atau Hakikat Illahi; 3. (Syath) Alam hamba yang ditarik oleh fadhal dan
rahmat Allah (karena memperoleh beberan, sawab, berkah dan pangestunya
Wasithah; buah dari tu-memennya pada Dawuh Guru); ditarik membuk-tikan
Dawuh Guru. Yakni rasanya yang dirasakan hanya Ada dan WujudNya Tuhan
(fana dzat; membuktikan mati selamat); menjadi ahli surga “fii maq’adhi
shidqin ‘inda malikin Muqtadirin”.
Jagad Kecil : 1. Dada manusia; 2. Representasi dari jagad besar (lih. alam kabir).
Jagad Besar : (lih. alam kabir)
Al Jalil : 1. Yang Penuh Keagungan; Dia yang memenuhi syarat
kemuliaan, kebesaran dan ketinggian. 2. Salah satu Nama Indah Allah
(asmâ al-husnâ).
Jaman Al Mahdi: 1. (Syath) Jaman di mana hamba Allah dipermudah untuk
menerima, menangkap dan mencerna, menghayati dan mengamalkan hidayah
Allah SWT, sehingga menjadi hamba yang imannya ma’rifatun wa tashdiqun
(lih. Iman Mahdi). 2. (Syath) Suatu jaman dimana Allah menetapkan
hamba-hambaNya dalam keadaan rela memenuhi petunjuk dan perintah Al
Mahdi yang tidak lain pelanjut tugas rasulNya. Sebab keberadaanya
menu-rut firmanNya juga sebagai saksi. 3. (Syath) jaman dimana ummat
sama sekali tidak berani berselisih dengan ayat-ayatNya Allah. Yang
semua ayat-ayatNya Allah ini pada dasarnya mengarah pada satu titik
kebenaran tentang Al HaqNya yang Mutlak dan Wajib WujudNya.. Keberadaan
DiriNya Al Ghaib ini tidak mungkin dapat diketahui apabila tidak lewat
rasulNya (QS Takwir 24, Al Imran 179 dsb).
Al Jami’ : 1. Yang Maha Mengumpulkan; Dia yang memadukan hal-hal yang
sama, hal-hal yang berbe-da dan hal-hal yang bertentangan; 2. Salah
satu Nama Indah Allah (asmâ al-husnâ).
Jasad : 1. Tubuh manusia; 2. (Syath) Unsur kejadian manusia yang
pertama dan keberadaan di dunia dibatasi umur; 3. (Syath) Wujud nafsu
manusia yang dijadikan Allah, sengaja hendak diuji; oleh diberi hati
(hati sanubari : lih. hati sanubari) yang harus terus menerus diperangi
(jihaadul akbar) hingga mau patuh dan tunduk dijadikan kendara-annya
hati nurani, ruh dan rasa untuk mendekat hingga sampai dengan selamat
kepada-Nya
Jihadunnafsi : 1. (Syath) Memerangi hawa nafsunya sendiri hingga
patuh dan tunduk dijadikan kendaraan oleh cita-cita hati nurani, roh dan
rasa mendekat hingga sampai kepada Tuhan; 2. (Syath) Jihadulakbar.
Kamus Sufi Huruf I
Ibadah (ibadat) : 1. Perbuatan yang menyatakan bakti kepada Tuhan. 2.
Seluruh aktivitas seseorang yang terdapat dzikir yang mempertalikan
seseorang dengan Tuhannya
Iblis : 1. (Syath) Nama diri setan, makhluk bangsa jin; 2. (Syath)
Makhluk yang sangat berani melakukan ablasa terhadap Tuhannya; yang
watak akunya melecehkan keberadaan wakil-Nya di bumi ini abaa was
takbara, menjadi pembantah yang nyata pada kehendak Tuhannya.
Ibnu ‘Arabi : Nama lengkap beliau adalah Muhammad ibn ‘Ali ibn
Muhammad ibn ‘Arabiyy, Abu Bakr al-Hatimiyy at-Ta’iyy al-Anadalusiyy
(1165 – 1240). Muhyiddin (penghidup agama) adalah gelar beliau, gelar
lainnya adalah asy-Syaikh al-Akbar (guru yang agung). Dilahirkan di
Mursia, Spanyol bagian Tenggara, kemudian hijrah ke Seville. Ibnu ‘Arabi
biasanya dihubungkan dengan doktrin wahdatul wujud, karena dianggap
pendirinya, walaupun dalam berbagai karangannya beliau tidak pernah
menggunakan istilah tersebut. Karya mistiknya ba-nyak sekali baik dalam
bentuk kitab maupun risa- lah. Diantaranya al-Futuhat al-Makkiyyah,
Fusus al-Hikam, Mafatih al-Gaib, Bulgah al-Gawas.
IhdinashshiraathalMustaqim. : 1. Ihdina – mengan-dung makna bagi yang
dibuka rasa sadarnya sebagai hamba yang apes, hina, tidak bisa apa-apa,
tidak tahu apa-apa, tidak punya apa-apa. Sahdan bisanya hanya menambah
salah dan dosa. Maka kesa-darannya lalu berkata : Seandainya tidak
diberi hidayah yang nyata olehNya, tidak hanya apes, hina dina dan sama
sekali sia-sia serta rugi dalam menjalani hidup ini, bahkan matinya pun
akan sesat selama-lamanya. Tidak bisa pulang kembali ber-temu dengan
DiriNya Illahi. Padahal itulah yang amat sangat ditakuti.
Shiratal-mustaqim itu dhahir-nya syareat dengan batin yang mapan di
hakekat. (Lih. Hakekat). 2. (Syath) Tunjukilah kami jalan yang lurus.
Jalan satu-satuNya milikMu itu. (bukan jalan–jalan yang menceraiberaikan
kami dari jalan-Mu, sebagaimana yang Engkau firmankan dalam Surat
Al-An’am ayat 153 itu).
Dan oleh karena jalan itu adalah milikMu. Maka memang seharusnya
bahwa kewajiban yang perta-ma-tama adalah mengenali DiriMu sebagai Dzat
Yang Wajib WujudNya. Oleh karena itu kami sama sekali tidak enggan dan
sama sekali tidak malu bertanya kepada yang ahli tentang ini, lalu
meng-ikuti jejak para malaikatMu yang Engkau dekatkan itu. Untuk berbuat
sujud, yakni kal-mayyiti diha-dapan wakilMu dimuka bumi. Yang kami
sadari memang harus dengan kesungguhan memerangi nafsu. Sebagaimana
dalam petunjukMu dalam Surat AL-Hijr 98: “fasabbih bihamdirabbika
wakun minassajidina.”
JalanMu yang sangat lembut dan samar-samar. Sebagaimana DiriMu Yang
juga sangat lembut sekali untuk dapat selalu dihayati. Mudah sekali
terjadi dengan tiba-tiba lupa mengingati apa lagi hingga menghayati.
Sedangkan syaitan dan wadya balanya yang lembut dan yang kasar. Begitu
beraneka dan bermacam-macam. Sebanyak jenis dan macam makhlukMu dijagad
manusia, jin dan syaitan. Maka dengan tanpa pembimbingnya Al-Hadi sang
Penunjuk jalan yang Engkau percaya mewakiliMu sebagai tugas penerusan
utusanMu. Yang menjelaskan perihal hidahMu. Banyak terjadi yang
terdapat di tengah jalan. Akibat gejolak nafsu dan syaitan yang terus
menerus memburu, lalu mudah sekali ditumbuhi watak ngendelake benere
dewe, ngendelake panemune dewe, ngendelake wicarane dewe. Lalu sama
sekali lupa dengan akibat yang akan diperolehnya. Yaitu “faqod
ta’arrodha liahwaaisysyaithaani lahu”. Maka benar-benar telah menawarkan
dirinya supaya disesatkan syaithan.
Ihsan : 1. Kebajikan, kesempurnaan, keutamaan atau keindahan
spi-ritual. 2. a. Berbuat kebaikan yang sudah semestinya dilakukan yang
menyangkut har-ta, kata-kata, tindakan dan segenap keadaan, b.
Beribadah dengan penuh kehadiran dan kesadaran, seperti seseorang yang
benar-benar melihat Tuhan-nya, c. Merenungkan dan memikirkan Allah
dalam segala sesuatu dan setiap saat.
Ikhlas : 1. Tulus hati; dengan hati yang bersih; 2. Membersihkan
perbuatan dari segala ketidak-murnian (termasuk apa yang timbul dari
keinginan untuk menyenangkan diri sendiri dan makhluk lain); 3.
Membebaskan perbuatan (lahir dan batin) dari selain Tuhan yang berperan
dalam perbuatan itu; 4. (Syath) Orang yang beribadah kepada Allah
sedemikian rupa sehingga tidak memperhatikan kalau dirinya itu sedang
beribadah, tidak memper-hatikan dunia dan penghuninya dan tidak
meng-inginkan balasan di dunia dan akhirat.
Illa Huwa : 1. (Syath) Rahasia yang terkandung dalam kalimat itsbat;
2. (Syath) Ada dan Wujud DiriNya Dzat Satu-satuNya Yang Al Ghaib (Isinya
Huw) yang keberadaanNya abadi dalam rasa hati.(lih. Huwa, kalimat
itsbat Illallah)
Illallah : 1. Hanya Allah; 2. (Syath) Kalimat itsbat (yang
ditetapkan dalam rasa hati) yaitu Ada dan Wujud-Nya Illahi yang meski
Al-Ghaib nyata sekali mudah diingat-ingat dan dihayati. Hakekat Yang Ada
dan Wujud itu hanya satu, Diri-Nya Illahi. Dia tidak nampak oleh mata
hati karena terdinding oleh wujudnya jiwa raga dan rasa memiliki
(akon-akon) dunia ini.
Ilmu Syaththariah : (Syath) 1. Asal kata Syathara yang artinya
membelah menjadi dua, yang dibelah adalah kalimah tauhid Laailaha
Illallah. Laailaha adalah kalimah nafi (yang harus diperjuangkan
menafikan semua hal selain Tuhan termasuk wujudnya jiwa raga) dan
Illallah adalah kalimah isbat (ditetapkan di dalam hati nurani, roh dan
rasa adalah DiriNya Illahi = IsiNya Huw) ; 2. Ilmu rasa yaitu ilmu yang
berada di dalam rasa; 3. Ilmu yang menjaga, me-melihara dan
melestarikan dzikir yang mencapai martabat rasa (dzikir sirri)(lih.
martabat rasa); 4. Ilmu yang menunjukan “pintunya mati”, supaya bisa
mati dengan selamat; 5. Ilmu yang memper-temukan inti manusia (rasa,
sirr) dengan tempat asalnya yakni DiriNya Dzat Yang Al Ghaib; 6. Ilmu
yang menunjukan tentang keberadaan diri Tuhan Yang Al-Ghaib, Allah
Asma’-Nya supaya mata hati( hati nurani) dapat menangkap dengan yakin
dan jelas atas keberadaan Diri-Nya Tuhan itu, hingga dengan mudah dapat
selalu diingat-ingat dalam segala tingkah laku dan perbuatan, di mana
saja, kapan saja serta dalam keadaan apa saja.
Iman al-Ghazali : nama lengkap beliau adalah Abu Hamid Muhammad ibn
Muhammad ibn Muhammad al-Ghazaliyy at-Tusiyy(450 – 505 H). Lahir dan
meninggal di Thus kawasan Khurasan. Beliau dikenal sebagai seorang
filsuf dan ulama sufi yang mendapat gelar kehormatan Huzzah al-Islam.
Berkeliling berbagai negeri untuk menuntut ilmu antara lain Naisabur,
Baghdad, Hijaz, Syam dan Mesir. Karangannya yang terkenal Ihya Ulum
ad-Din.
Iman Ali Zainal Abidin : Imam Sajjad (Ali bin ibn Husain yang
dijuluki Zainal Abidin dan Sajjad) Wasithah ke 5 (61 H – 66 H) merupakan
putra dari Imam Husain yang masih hidup. Ketiga saudara beliau (Ali
Akbar 25 tahun, Ja’far 5 tahun dan ‘Ali Ashghar masih bayi) terbunuh
sebagai shuhada dalam peristiwa Karbella. Pada waktu peristiwa Karbella,
Imam Zainal Abidin sakit keras dan dikirim ke Damsyik.
Imam Husain bin Ali : Wasithah ke 4, Ahlu Bait sekaligus cucu Nabi
Muhammad SAW ke 2 dari Fatimah Az-Zahro’(putri Nabi). Beliau lahir pada
bulan Sya’ban tahun 4 H ( 8 Januari 626 M). dan meninggal di Gurun
Karbella setelah berperang dengan pasukan Yazid pada 10 Muharam 61 H (10
Oktober 680 M). Iman Husain bersama saudaranya (yang juga Wasithah 3)
Iman Hasan, sempat mendapat didikan dari Nabi SAW.
Imam Mahdi (Al-Mahdi) : (Syath) 1. Imam mereka yang dikehendaki Allah
memperoleh hidayah dari-Nya; 2. Imam mereka yang memurnikan Islam
sebagai agama yang lurus menatap wajahNyaDzat Yang Wajib WujudNya, Al
Ghaib dan Allah Asma-Nya dan hanya itu saja satu-satunya yang ditetapkan
Ada dan WujudNya dalam hatinurani roh dan rasanya, sehingga benar-benar
menghayati maksud menTauhidkan Dzat Sifat dan Af’alNya. 3. Imam
mereka yang dengan taat dan sungguh-sungguh mengikuti sunnahNya Nabi
Muhammad SAW dan sunnahnya para wakil-Nya yang lurus (hingga sampai
dengan selamat bertemu Allah). 4. Hamba yang dibentuk olehNya senantiasa
berada di dalam hidayahNya, supaya hidayah yang diperoleh dari Tuhannya
itu diberikan pula kepada hamba yang dikehendaki olehNya memperoleh
hidayahNya; sehingga menjadi hamba yang mau dan rela terus menerus
melakukan jihadunnafsi hingga nafsunya (yang tidak lain wujud jiwa
raganya) menjadi kalah lalu rela dijadikan kendaraannya hatinurani, roh
dan rasa mendekat kepada Tuhannya sehingga sampai dengan selamat dan
bahagia bertemu lagi dengan-Nya. 5. Orang yang mendapat hidayah dan
memim-pin orang yang mendapat hidayah pula dari Allah dan berperan
mengembalikan Hak Allah dab Hak Nabi Muhammad SAW ke tempat yang
semestinya. (lih. Hak Allah dan Hak Nabi Muhammad SAW);
Imam Muhammad Ja’far Shodiq : Washitah ke 7 (114 – 148 H). Imam
Muhammad Ja’far Shodiq adalah imam ke tujuh dari dua belas imam
pengganti keturunan Rasul. Beliau lahir pada tahun 83 H/720 M dan wafat
tahun 148 H/785 M). Nama julukannya adalah Abu Abdillah dan gelarnya
yang terkenal adalah As-Shadiq, Al-Fadhil dan Ath-Thahir. Beliau adalah
putra Imam Muhammad Al Baqir (Imam ke enam) dan ibundanya adalah putri
al-Qasim bin Muhammad bin Abu Bakar. Imam Ja’far Shadiq dibesarkan oleh
kakeknya Imam Zainal Abindin di Madinah selama 12 tahun dan selanjutnya
di bawah perlindungan Ayahandanya selama 19 tahun.
“Inti Manusia” : (Syath) Bertempat di dalam rasa yang begitu dalam
(rasa bertempat di dalam roh dan roh bertempat di dalam qalbun
nuraniyun), merupakan nyawa manusia itu sendiri. “Inti manusia” ini
tempat asalnya dari Diri-Nya Dzat Al Ghaib Yang Wajib WujudNya. Antara
“Inti Manusia” dengan DiriNya Dzat Yang Al Ghaib dan Allah AsmaNya sama
sekali tidak ada jarak dan juga tidak ada batasnya. Bagaikan kertas dan
putihnya. Bagaikan sifat dan mausuf. Dengan mengetahui jati dirinya
merupakan benih fitrahnya sendiri, inti manusianya sendiri, yang tempat
asalnya dari Tuhan Dzat Yang Maha Rahman, dengan sendirinya pasti tahu
terhadap Diri Tuhannya sebagai tempat asal usulnya sendiri.
“Iqra’ bismirabbikalladzi khalaq” : 1. Ayat pertama yang diturunkan
kepada Nabi Muhammad Saw; yang artinya (harafiah); “bacalah dengan nama
Tuhanmu Yang Menciptakan”; 2. (Syath) Membaca keberadaanNya. Keberadaan
Ada dan WujudNya Dzat Yang Maha Esa, Dzat Yang Al Ghaib, yang oleh
Malaikat Jibril dibisikkan kedalam dadanya lewat terlinga kirinya.
Kemudian secara turun menurun sebagaimana yang dilakukan al-Hadi hingga
kini kepada yang dikehendaki.
Istighfar : 1. Memohon ampun; 2. Memohon ampunan Zat Yang Maha Suci
untuk menutupi dosa dan kesa-lahannya dan menghapuskan
konsekuensi-konseku-ensi dosa dan kesalahannya.
Ismu Dzat : (Syath) Dzikir keempat dari tujuh macam dzikir (Dzikir
dalam Syththariah). Yaitu melafalkan Allah (sebanyak 7 kali). Arah yang
dipukul dagu tepat di tengah-tengah dada. Mengarah pada ruh yang
keberadaannya di dalam hati nurani. Menya-darkan dan memahi bahwa ruh
yang menandai ada-nya hidup dan kehidupan dengan ke luar masuknya nafas
dalam dada, lalu karena itu wujud jiwa raga mempunyai daya dan kekuatan,
ini semua adalah Min Ruuhihi (Daya dan KekuatanNya Allah Swt).
Itsbat : (Lih. Illallah)
Itsbat Faqod : (Syath) Dzikir ketiga dari tujuh macam dzikir (Dzikir
dalam Syththariah). Yaitu “Illallah” yang dilakukan sebanyak 7 kali.
Dipukulkan ke dalam hati nurani dengan dagu. (Lih. Thawaf). Bermaksud
mempetegas, bahwa hanya Diri-Nyalah (IsiNya Huw) Yang Wujud dan Yang
Ada, sehingga hati yang menjadi markas besarnya nafsu law-wamah
benar-benar diam, tidak mengganggu perja-lanan dan cita-cita hati
nurani, ruh dan rasa dalam tujuan mendekat sehingga sampau ma’rifat
kepada-Nya.
Itba’ : (Syath) Mengikuti, mencontoh dalam ucapan dan tingkah laku Rasul – Guru Yang Hak dan Sah sebagai wakil Rasul.
Iyyakana’ budu waiyyaakanasta’in.: 1.(Syath) Hanya kepada Engkaulah
kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan.
Ada-lah ungkapan hamba yang pandai bersyukur, ridha dan ikhlas
kepadaNya. Juga ungkapan hamba yang secara nyata rasa hatinya mengenali
Ada dan Wujud DiriNya. Ungkapan hamba yang deple-deple dan pasrah
bongkokan kepadaNya. 2. (Syath) Hanya kepada Eng-kaulah kami menyembah
dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan. Sebab kami menyadari
bahwa kulluman ‘alaiha faanin Wayabqo wajhu Rabbika dzul Jalali wal
ikraam (Q. S. Ar- Rahman 26-27).
Kami menyadari dengan seyakin-yakinnya dalam rasa ini. Dengan ajaran
dariMu lewat Utusan yang Engkau tugasi itu bahwa Huwal awwalu
Huwal-akhiru, Huwa adzdzahiru Huwa al-bathinu. Hanyalah DiriMu
Satu-satuNya Dzat Yang Wajib WujudNya yang meskipun Al Ghaib dekat
sekali dalam rasa hati sebab selain DiriMu. Termasuk wujud diriku dan
apa saja yang menempel disini, sebenarnya memang tidak wujud dan tidak
ada (Engkau adakan Wujudnya adalah sebagai ujian untuk dapat lulus
ditiadakan, agar tidak menjadi hijab yang mematikan hati untuk menemuiMu
lagi).
Karena itu betapa al-fakirnya hambaMu ini. Kalau sekiranya tidak
hanya untuk menyembah kepada-Mu, maka hidup kami akan sia-sia dan sesat
selama-lamanya. Maka aku akan selalu nggandul kepadaMu. Sebab betapa
keadaan hidup yang aku jalani. Semua tergenggam ditanganMu, maka hanya
kepada-Mu aku mohon pertolongan dan kasih sayang.
Kamus Sufi Huruf H
Al- Hadi : 1. Pemimpin, 2. Penunjuk jalan, 3. (Syath) Yang Maha
Memberi Petunjuk. Dia yang memandu hamba-hamba terpilihNya untuk
mengetahui dzat-Nya sehingga mereka dapat merujuknya sebagai saksi atas
segala sesuatu, karena Dia memandu bagian terbesar hamba-Nya ke hal-hal
yang telah diciptakanNya, sehingga mereka dapat merujuk hal-hal ciptaan
sebagai saksi atas Dzat-Nya; dan juga memandu setiap ciptaan ke apa yang
dibutuhkannya untuk memuaskan kebutuhan-kebutuhannya; 4. Sa-lah satu
Nama Indah Allah (asmâ al-husnâ).
Al Hafizh : 1. Yang Maha Pelestari, Yang Maha Melin-dungi, Yang Maha
Menjaga; adalah penjaga sem-purna (hafizh). 2. Salah satu Nama Indah
Allah (asmâ al-husnâ).
Hairah : 1. Kebingungan atau keheranan; 2. Menunjukan sebuah momen
yang sangat membingungkan ketika pikiran berhenti bekerja dan tidak
mampu menemu-kan jawaban atas kebuntuan spiritual, yang hanya dapat
dicapai atas rahmat Allah; 3 Puncak kebi-ngungan dimiliki oleh kaum arif
dan para pecinta Tuhan; 4. Menurut Syekh Abdurrauf Singkel (washitah ke
29), hairah dan al-‘ajz (merasa dan mengetahui dirinya lemah) dua hal
ini merupakan puncak tercapainya makrifat kepada Allah
Hajj (haji) : 1. Perjalanan ke Mekah dalam rangka me-nunaikan ibadah
haji (rukun Islam ke 5); 2. (Syath) Perjalanan puncak menuju pengetahuan
tentang Allah yang bersemayam di hati nurani, ruh dan rasa; 3. (Syath)
Panggilan Allah untuk membuktikan ‘arifun billah. Sebab al Hajju
‘arafatu. Prakteknya harus wukuf di padang arafah. Berhenti sejenak dari
segala urusan dunia, untuk kembali konsentrasi sepenuhnya pada Allah
Sang Pencipta. Wukuf berarti berhenti. Menghentikan semua hal yang
menjadikan hijabnya mata hati hingga tidak akan dapat menyaksikan
DiriNya Illahi. Semua rukun haji merupakan simbol-simbol untuk mencapai
keadaan tersebut.
Al Hakam : 1. Yang Memutuskan Hukum; hakim yang mengadili dan
menuntut balas, yang kekuasaannya tidak ada yang dapat menggulingkannya
dan keten-tuannya tidak ada yang dapat mengubahnya. 2. Salah satu Nama
Indah Allah (asmâ al-husnâ).
Hak Allah : 1. (Syath) Kewajiban-kewajiban manusia yang
diperin-tahkan-Nya; 2. (Syath) Meninggalkan larangan-larangan-Nya; 3.
(Syath) Hak untuk dike-tahui wujud Dzat Al-Ghaib yang sangat dekat
sekali dan ditempatkan pada tempatnya hingga dapat me-menuhi
perintah-Nya sebagaimana QS. Al A’raf, 205.
Hak Rasullah SAW : 1. (Syath) Risalahnya tersebar /disampaikan hingga
hari kiamat. 2. (Syath) Hak untuk membimbing umatnya hingga kiamat dan
su-paya selalu tetap berada pada tempatnya, ditengah-tengah kaumnya; 3.
(Syath) Berkenaan dengan ada-nya Imam (penerus Rasul) yang selalu ada
secara gilir gumanti dalam sebuah rantai silsilah sejak Nabi Muhammad
SAW hingga kini sampai kiamat nanti.
Hak Malaikatan : (Syath) Alam ajaib yang ditunjukan Allah kepada
seseorang yang dikehendaki-Nya, yang dibukakan sehingga tahu bicaranya
segala makhluk Tuhan termasuk segala macam tumbuh-tumbuhan, segala macam
binatang. Pandai dan wasis berbicara dengan segala bahasa manusia dan
bahasa hewan serta tumbuh-tumbuhan.
Hak Mardus Sarpin : (Syath) Alam ajaib yang ditun-jukan Allah kepada
seseorang yang dikehendaki-Nya; akan mengetahui segala macam penyakit
beserta obatnya.
Hak Perdewaan : (Syath) Alam ajaib yang ditunjukan Allah kepada
seseorang yang dikehendaki-Nya; akan membuka pengetahuan tentang aji
jaya kawi-jayan, sakti mandra guna, bisa terbang, menghilang, digdaya
tidak mempan segala macam senjata, dapat pergi kemanapun dalam sekejap
mata; gunung dirukul hancur, laut diciduk asat.
Hak Wisnu : (Syath) Alam ajaib yang ditunjukan Allah kepada seseorang
yang dikehendaki-Nya, yang akan membuka hijab sehingga ia akan tahu dan
mengerti apapun yang akan terjadi. Contoh mengetahui isi hati orang,
kehendak tengu di atas langit lapis tujuh.
Hakekat : 1. akar kata haq dapat berarti milik atau kepu-nyaan; benar
atau kebenaran; 2. Kebenaran Illahi. 3. (Syath) Terbukanya kesadaran
hamba atas kesung-guhannya dalam menjalani lakon dan pitukon atas
perintah Gurunya yang hak dan sah bahwa hake-katnya Yang Bisa Yang Kuat,
Yang Memiliki Segala Maujud, Yang Berbuat (tandang), Yang Ber-gerak
(obah osik), bahkan yang Ada dan Wujud hanyalah DiriNya Dzat Yang Al
Ghaib Yang Allah AsmaNya. 4. (Syath) Hati nurani, roh dan rasa yang
telah berfungsi untuk selalu mengingat-ingat dan menghayati DiriNya Dzat
Al Ghaib dan Mutlak WujudNya.
Al Hakim : 1. Yang Maha Bijaksana; 2. Salah satu Nama Indah Allah (asmâ al-husnâ).
Hal : 1. Keadaan mistis; 2. Keadaan spiritual yang me-nguasai hati.
Hal masuk masuk kedalam hati sebagai anugerah dan karunia dari Rahmat
Allah yang tidak terbatas pada hambaNya. Hal tidak dapat dicapai melalui
usaha, keinginan atau undangan. Ia datang dengan tidak diduga-duga dan
pergi tanpa diduga; 3. Kejadian tersembunyi yang, dari alam lebih
tinggi, kadang-kadang turun ke hati murid, datang dan pergi sampai
ketertarikan Illahi memba-wanya dari tahapan paling rendah menuju
ketahap-an paling tinggi. (lih. tujuh macam pendakian).
Al Halim :1.Yang Maha Penyantun; Dia yang mengamati kedurhakaan
orang-orang yang durhaka dan mem-perhatikan yang menentang perintah,
namum Dia tidak terdorong untuk murka dan amarah tidak me-nguasai-Nya;
ketergesaan dan kesembronoan tidak ada pada Diri-Nya yang mengakibatkan
Dia segera memberikan balasan, meskipun Dia sepenuhnya mampu melakukan
hal tersebut. 2. Salah satu Nama Indah Allah (asmâ al-husnâ).
Al. Hamid : 1. Yang Maha Terpuji; Dia yang terpuji. Allah Swt. adalah
Yang Terpuji, karena Dia memuji diri-Nya sejak azali dan karena
hamba-hamba-Nya memuji-Nya untuk selamnya. 2. Salah satu Nama Indah
Allah (asmâ al-husnâ).
Al Haqq : 1. Yang Maha Benar; Dia merupakan lawan kepalsuan; 2. Salah satu Nama Indah Allah (asmâ al-husnâ).
Hasad : 1. Dengki; 2. Suatu keadaan psikis ketika sese-orang
menginginkan hilangnya suatu karunia, kemampuan atau kebaikan, secara
nyata atau kha-yal, yang dimiliki oleh orang lain.
Al Hasib : 1. Yang Maha Membuat Perhitungan; Dia yang mencukupi
karena Dia adalah yang dibutuh-kan apa yang dimiliki-Nya. Allah Swt.
adalah yang mengukur setiap sesuatu dan Dia yang mencuku-pinya. 2. Salah
satu Nama Indah Allah (asmâ al-husnâ).
Hati ‘adam : 1. (Syath) Hati yang membuktikan kebenar-an kalimat
tauhid; membuktikan apa saja, akon-akon dunia dan wujud jiwa raga, zat,
sifat dan af’al-nya hamba, semua telah mati, semua telah tiada (‘adam)
Hati yang bening : (Lih. Tashfiatul qalbi)
Hati Nurani : 1. (Syath) Hati jantung, letaknya tepat ditengah-tengah
dada, tandanya detak jantung. 2. (Syath) Wujud lembut yang dibangsakan
gaib, tetapi bukan Al-Ghaib, bukan Diri-Nya Tuhan Zat Yang Al-Ghaib;
yang dijadikan Allah dari cahaya. Supaya wataknya seperti para
Malaikat-Nya, harus diisi dengan ilmu yang menjadikannya terbuka supaya
dapat tembus langsung pada keberadaan Diri-Nya, Zat Yang Al-Ghaib yang
sangat dekat sekali dengan rasa hati. Hati nurani ini kewajiban-nya
adalah melaksanakan tarekat (lih. tarekat). Af’al-nya selalu mengajak
kepada kebajikan, sifat-nya ya’rifullaha, zatnya muqabilatun ilallah.
Hati ini ‘adam (lih: hati yang ‘adam)
Hati Sanubari : 1. (Syath) Hati yang wataknya menuruti keinginan-keinginan jasmani-lahiriah.
Al Hayy : 1. Yang Mahahidup; 2. Salah satu Nama Indah Allah (asmâ al-husnâ).
Hidayah : 1. Petunjuk; 2. Berkaitan dengan petunjuk dan bimbingan dari Allah.
Hijab : 1. Tutup; tirai; kain selubung; cadar; 2. (Syath) Sesuatu
yang menghalangi hati seorang hamba terhadap Tuhan-Nya Dzat Al Ghaib
Yang Wajib Wujud-Nya.
Al-Hikmah : 1. Hikmah; 2. Berkaitan erat dengan keadilan, bermakna
“berbuat tepat sesuai dengan waktunya”. Hikmah adalah keseimbangan
sempur-na antara ilmu dan amal.
Huwa : 1. Dia; 2. Dia yang tersembunyi di dalam hati, naluri atau
suara hati; 3. Ia adalah diri tinggi wujud ghaib. Huwa menunjukan esensi
itu sendiri yang senantiasa berada dalam kegaiban dan tetap tidak
terbandingkan pada dirinya sendiri; 4. (Syath) Dia yang AsmaNya Allah,
Yang Wajib WujudNya Dzat Yang Al Ghaib.
Langganan:
Postingan (Atom)