Sabtu, 05 Mei 2012

Mangkunegaran IV ( Sembah dan Budi Luhur )

Untuk membaca artikel ini, klik di sini.

Taman Sufi

Untuk mengetahui Taman Sufi klik di sini.

Kamus Sufi Huruf Z

 Untuk mengetahui Kamus Sufi Huruf Z klik di sini.

Kamus Sufi Huruf W

Untuk mengetahui Kamus Sufi Huruf W klik di sini.

Kamus Sufi Huruf U

Untuk mengetahui Kamus Sufi Huruf U klik di sini.

Kamus Sufi Huruf T

Kunjungi link di bawah ini :

https://www.facebook.com/#!/groups/104844072939557/doc/263393220417974/

Kamus Sufi Huruf S

Kunjungi link di bawah ini :

https://www.facebook.com/#!/groups/104844072939557/doc/263392573751372/

Kamus Sufi Huruf R

Kunjungi link di bawah ini :

https://www.facebook.com/#!/groups/104844072939557/doc/263392077084755/

Kamus Sufi Huruf Q

Kunjungi link di bawah ini :

https://www.facebook.com/#!/groups/104844072939557/doc/263391033751526/

Kamus Sufi Huruf P

Kunjungi link di bawah ini :

https://www.facebook.com/#!/groups/104844072939557/doc/263390770418219/

Kamus Sufi Huruf O

Kunjungi link di bawah ini :

https://www.facebook.com/#!/groups/104844072939557/doc/263390600418236/

Kamus Sufi Huruf N

kunjungi link di bawah ini :

https://www.facebook.com/#!/groups/104844072939557/doc/263390337084929/

Kamus Sufi Huruf M

Kunjungi link di bawah ini :

https://www.facebook.com/#!/groups/104844072939557/doc/263390060418290/

Kamus Sufi Huruf L

Kunjungi link di bawah ini :

https://www.facebook.com/#!/groups/104844072939557/doc/263389543751675/

Kamus Sufi Huruf K

 Kunjungi link di bawah ini :

 https://www.facebook.com/#!/groups/104844072939557/doc/262607680496528/

Selasa, 01 Mei 2012

Kamus Sufi Huruf J

Al Jabbâr : 1. Yang Maha Memaksa, Yang menerapkan kehendak-Nya dengan cara pemaksaan pada segala sesuatu, dan kehendak wujud-wujud lain tidak dapat mengatasi-Nya. Segala sesuatu tidak ada yang lepas dari genggaman-Nya. 2. Salah satu Nama Indah Allah (asmâ al-husnâ).
Jabarut : 1. Alam Kemahaperkasaan, Alam Kerajaan, Alam Kemahakuasaan atau Hakikat Illahi; 3. (Syath) Alam hamba yang ditarik oleh fadhal dan rahmat Allah (karena memperoleh beberan, sawab, berkah dan pangestunya Wasithah; buah dari tu-memennya pada Dawuh Guru); ditarik membuk-tikan Dawuh Guru. Yakni rasanya yang dirasakan hanya Ada dan WujudNya Tuhan (fana dzat; membuktikan mati selamat); menjadi ahli surga “fii maq’adhi shidqin ‘inda malikin Muqtadirin”.
Jagad Kecil : 1. Dada manusia; 2. Representasi dari jagad besar (lih. alam kabir).
Jagad Besar : (lih. alam kabir)
Al Jalil : 1. Yang Penuh Keagungan; Dia yang memenuhi syarat kemuliaan, kebesaran dan ketinggian. 2. Salah satu Nama Indah Allah (asmâ al-husnâ).
Jaman Al Mahdi: 1. (Syath) Jaman di mana hamba Allah dipermudah untuk menerima, menangkap dan mencerna, menghayati dan mengamalkan hidayah Allah SWT, sehingga menjadi hamba yang imannya ma’rifatun wa tashdiqun (lih. Iman Mahdi). 2. (Syath) Suatu jaman dimana Allah menetapkan hamba-hambaNya dalam keadaan rela memenuhi petunjuk dan perintah Al Mahdi yang tidak lain pelanjut tugas rasulNya. Sebab keberadaanya menu-rut firmanNya juga sebagai saksi. 3. (Syath) jaman dimana ummat sama sekali tidak berani berselisih dengan ayat-ayatNya Allah. Yang semua ayat-ayatNya Allah ini pada dasarnya mengarah pada satu titik kebenaran tentang Al HaqNya yang Mutlak dan Wajib WujudNya.. Keberadaan DiriNya Al Ghaib ini tidak mungkin dapat diketahui apabila tidak lewat rasulNya (QS Takwir 24, Al Imran 179 dsb).
Al Jami’ : 1. Yang Maha Mengumpulkan; Dia yang memadukan hal-hal yang sama, hal-hal yang berbe-da dan hal-hal yang bertentangan; 2. Salah satu Nama Indah Allah (asmâ al-husnâ).
Jasad : 1. Tubuh manusia; 2. (Syath) Unsur kejadian manusia yang pertama dan keberadaan di dunia dibatasi umur; 3. (Syath) Wujud nafsu manusia yang dijadikan Allah, sengaja hendak diuji; oleh diberi hati (hati sanubari : lih. hati sanubari) yang harus terus menerus diperangi (jihaadul akbar) hingga mau patuh dan tunduk dijadikan kendara-annya hati nurani, ruh dan rasa untuk mendekat hingga sampai dengan selamat kepada-Nya
Jihadunnafsi : 1. (Syath) Memerangi hawa nafsunya sendiri hingga patuh dan tunduk dijadikan kendaraan oleh cita-cita hati nurani, roh dan rasa mendekat hingga sampai kepada Tuhan; 2. (Syath) Jihadulakbar.

Kamus Sufi Huruf I

Ibadah (ibadat) : 1. Perbuatan yang menyatakan bakti kepada Tuhan. 2. Seluruh aktivitas seseorang yang terdapat dzikir yang mempertalikan seseorang dengan Tuhannya
Iblis : 1. (Syath) Nama diri setan, makhluk bangsa jin; 2. (Syath) Makhluk yang sangat berani melakukan ablasa terhadap Tuhannya; yang watak akunya melecehkan keberadaan wakil-Nya di bumi ini abaa was takbara, menjadi pembantah yang nyata pada kehendak Tuhannya.
Ibnu ‘Arabi : Nama lengkap beliau adalah Muhammad ibn ‘Ali ibn Muhammad ibn ‘Arabiyy, Abu Bakr al-Hatimiyy at-Ta’iyy al-Anadalusiyy (1165 – 1240). Muhyiddin (penghidup agama) adalah gelar beliau, gelar lainnya adalah asy-Syaikh al-Akbar (guru yang agung). Dilahirkan di Mursia, Spanyol bagian Tenggara, kemudian hijrah ke Seville. Ibnu ‘Arabi biasanya dihubungkan dengan doktrin wahdatul wujud, karena dianggap pendirinya, walaupun dalam berbagai karangannya beliau tidak pernah menggunakan istilah tersebut. Karya mistiknya ba-nyak sekali baik dalam bentuk kitab maupun risa- lah. Diantaranya al-Futuhat al-Makkiyyah, Fusus al-Hikam, Mafatih al-Gaib, Bulgah al-Gawas.
IhdinashshiraathalMustaqim. : 1. Ihdina – mengan-dung makna bagi yang dibuka rasa sadarnya sebagai hamba yang apes, hina, tidak bisa apa-apa, tidak tahu apa-apa, tidak punya apa-apa. Sahdan bisanya hanya menambah salah dan dosa. Maka kesa-darannya lalu berkata : Seandainya tidak diberi hidayah yang nyata olehNya, tidak hanya apes, hina dina dan sama sekali sia-sia serta rugi dalam menjalani hidup ini, bahkan matinya pun akan sesat selama-lamanya. Tidak bisa pulang kembali ber-temu dengan DiriNya Illahi. Padahal itulah yang amat sangat ditakuti. Shiratal-mustaqim itu dhahir-nya syareat dengan batin yang mapan di hakekat. (Lih. Hakekat). 2. (Syath) Tunjukilah kami jalan yang lurus. Jalan satu-satuNya milikMu itu. (bukan jalan–jalan yang menceraiberaikan kami dari jalan-Mu, sebagaimana yang Engkau firmankan dalam Surat Al-An’am ayat 153 itu).
Dan oleh karena jalan itu adalah milikMu. Maka memang seharusnya bahwa kewajiban yang perta-ma-tama adalah mengenali DiriMu sebagai Dzat Yang Wajib WujudNya. Oleh karena itu kami sama sekali tidak enggan dan sama sekali tidak malu bertanya kepada yang ahli tentang ini, lalu meng-ikuti jejak para malaikatMu yang Engkau dekatkan itu. Untuk berbuat sujud, yakni kal-mayyiti diha-dapan wakilMu dimuka bumi. Yang kami sadari memang harus dengan kesungguhan memerangi nafsu. Sebagaimana dalam petunjukMu dalam Surat AL-Hijr 98: “fasabbih bihamdirabbika wakun minassajidina.”
JalanMu yang sangat lembut dan samar-samar. Sebagaimana DiriMu Yang juga sangat lembut sekali untuk dapat selalu dihayati. Mudah sekali terjadi dengan tiba-tiba lupa mengingati apa lagi hingga menghayati. Sedangkan syaitan dan wadya balanya yang lembut dan yang kasar. Begitu beraneka dan bermacam-macam. Sebanyak jenis dan macam makhlukMu dijagad manusia, jin dan syaitan. Maka dengan tanpa pembimbingnya Al-Hadi sang Penunjuk jalan yang Engkau percaya mewakiliMu sebagai tugas penerusan utusanMu. Yang menjelaskan perihal hidahMu. Banyak terjadi yang terdapat di tengah jalan. Akibat gejolak nafsu dan syaitan yang terus menerus memburu, lalu mudah sekali ditumbuhi watak ngendelake benere dewe, ngendelake panemune dewe, ngendelake wicarane dewe. Lalu sama sekali lupa dengan akibat yang akan diperolehnya. Yaitu “faqod ta’arrodha liahwaaisysyaithaani lahu”. Maka benar-benar telah menawarkan dirinya supaya disesatkan syaithan.
Ihsan : 1. Kebajikan, kesempurnaan, keutamaan atau keindahan spi-ritual. 2. a. Berbuat kebaikan yang sudah semestinya dilakukan yang menyangkut har-ta, kata-kata, tindakan dan segenap keadaan, b. Beribadah dengan penuh kehadiran dan kesadaran, seperti seseorang yang benar-benar melihat Tuhan-nya, c. Merenungkan dan memikirkan Allah dalam segala sesuatu dan setiap saat.
Ikhlas : 1. Tulus hati; dengan hati yang bersih; 2. Membersihkan perbuatan dari segala ketidak-murnian (termasuk apa yang timbul dari keinginan untuk menyenangkan diri sendiri dan makhluk lain); 3. Membebaskan perbuatan (lahir dan batin) dari selain Tuhan yang berperan dalam perbuatan itu; 4. (Syath) Orang yang beribadah kepada Allah sedemikian rupa sehingga tidak memperhatikan kalau dirinya itu sedang beribadah, tidak memper-hatikan dunia dan penghuninya dan tidak meng-inginkan balasan di dunia dan akhirat.
Illa Huwa : 1. (Syath) Rahasia yang terkandung dalam kalimat itsbat; 2. (Syath) Ada dan Wujud DiriNya Dzat Satu-satuNya Yang Al Ghaib (Isinya Huw) yang keberadaanNya abadi dalam rasa hati.(lih. Huwa, kalimat itsbat Illallah)
Illallah : 1. Hanya Allah; 2. (Syath) Kalimat itsbat (yang ditetapkan dalam rasa hati) yaitu Ada dan Wujud-Nya Illahi yang meski Al-Ghaib nyata sekali mudah diingat-ingat dan dihayati. Hakekat Yang Ada dan Wujud itu hanya satu, Diri-Nya Illahi. Dia tidak nampak oleh mata hati karena terdinding oleh wujudnya jiwa raga dan rasa memiliki (akon-akon) dunia ini.
Ilmu Syaththariah : (Syath) 1. Asal kata Syathara yang artinya membelah menjadi dua, yang dibelah adalah kalimah tauhid Laailaha Illallah. Laailaha adalah kalimah nafi (yang harus diperjuangkan menafikan semua hal selain Tuhan termasuk wujudnya jiwa raga) dan Illallah adalah kalimah isbat (ditetapkan di dalam hati nurani, roh dan rasa adalah DiriNya Illahi = IsiNya Huw) ; 2. Ilmu rasa yaitu ilmu yang berada di dalam rasa; 3. Ilmu yang menjaga, me-melihara dan melestarikan dzikir yang mencapai martabat rasa (dzikir sirri)(lih. martabat rasa); 4. Ilmu yang menunjukan “pintunya mati”, supaya bisa mati dengan selamat; 5. Ilmu yang memper-temukan inti manusia (rasa, sirr) dengan tempat asalnya yakni DiriNya Dzat Yang Al Ghaib; 6. Ilmu yang menunjukan tentang keberadaan diri Tuhan Yang Al-Ghaib, Allah Asma’-Nya supaya mata hati( hati nurani) dapat menangkap dengan yakin dan jelas atas keberadaan Diri-Nya Tuhan itu, hingga dengan mudah dapat selalu diingat-ingat dalam segala tingkah laku dan perbuatan, di mana saja, kapan saja serta dalam keadaan apa saja.
Iman al-Ghazali : nama lengkap beliau adalah Abu Hamid Muhammad ibn Muhammad ibn Muhammad al-Ghazaliyy at-Tusiyy(450 – 505 H). Lahir dan meninggal di Thus kawasan Khurasan. Beliau dikenal sebagai seorang filsuf dan ulama sufi yang mendapat gelar kehormatan Huzzah al-Islam. Berkeliling berbagai negeri untuk menuntut ilmu antara lain Naisabur, Baghdad, Hijaz, Syam dan Mesir. Karangannya yang terkenal Ihya Ulum ad-Din.
Iman Ali Zainal Abidin : Imam Sajjad (Ali bin ibn Husain yang dijuluki Zainal Abidin dan Sajjad) Wasithah ke 5 (61 H – 66 H) merupakan putra dari Imam Husain yang masih hidup. Ketiga saudara beliau (Ali Akbar 25 tahun, Ja’far 5 tahun dan ‘Ali Ashghar masih bayi) terbunuh sebagai shuhada dalam peristiwa Karbella. Pada waktu peristiwa Karbella, Imam Zainal Abidin sakit keras dan dikirim ke Damsyik.
Imam Husain bin Ali : Wasithah ke 4, Ahlu Bait sekaligus cucu Nabi Muhammad SAW ke 2 dari Fatimah Az-Zahro’(putri Nabi). Beliau lahir pada bulan Sya’ban tahun 4 H ( 8 Januari 626 M). dan meninggal di Gurun Karbella setelah berperang dengan pasukan Yazid pada 10 Muharam 61 H (10 Oktober 680 M). Iman Husain bersama saudaranya (yang juga Wasithah 3) Iman Hasan, sempat mendapat didikan dari Nabi SAW.
Imam Mahdi (Al-Mahdi) : (Syath) 1. Imam mereka yang dikehendaki Allah memperoleh hidayah dari-Nya; 2. Imam mereka yang memurnikan Islam sebagai agama yang lurus menatap wajahNyaDzat Yang Wajib WujudNya, Al Ghaib dan Allah Asma-Nya dan hanya itu saja satu-satunya yang ditetapkan Ada dan WujudNya dalam hatinurani roh dan rasanya, sehingga benar-benar menghayati maksud menTauhidkan Dzat Sifat dan Af’alNya. 3. Imam mereka yang dengan taat dan sungguh-sungguh mengikuti sunnahNya Nabi Muhammad SAW dan sunnahnya para wakil-Nya yang lurus (hingga sampai dengan selamat bertemu Allah). 4. Hamba yang dibentuk olehNya senantiasa berada di dalam hidayahNya, supaya hidayah yang diperoleh dari Tuhannya itu diberikan pula kepada hamba yang dikehendaki olehNya memperoleh hidayahNya; sehingga menjadi hamba yang mau dan rela terus menerus melakukan jihadunnafsi hingga nafsunya (yang tidak lain wujud jiwa raganya) menjadi kalah lalu rela dijadikan kendaraannya hatinurani, roh dan rasa mendekat kepada Tuhannya sehingga sampai dengan selamat dan bahagia bertemu lagi dengan-Nya. 5. Orang yang mendapat hidayah dan memim-pin orang yang mendapat hidayah pula dari Allah dan berperan mengembalikan Hak Allah dab Hak Nabi Muhammad SAW ke tempat yang semestinya. (lih. Hak Allah dan Hak Nabi Muhammad SAW);
Imam Muhammad Ja’far Shodiq : Washitah ke 7 (114 – 148 H). Imam Muhammad Ja’far Shodiq adalah imam ke tujuh dari dua belas imam pengganti keturunan Rasul. Beliau lahir pada tahun 83 H/720 M dan wafat tahun 148 H/785 M). Nama julukannya adalah Abu Abdillah dan gelarnya yang terkenal adalah As-Shadiq, Al-Fadhil dan Ath-Thahir. Beliau adalah putra Imam Muhammad Al Baqir (Imam ke enam) dan ibundanya adalah putri al-Qasim bin Muhammad bin Abu Bakar. Imam Ja’far Shadiq dibesarkan oleh kakeknya Imam Zainal Abindin di Madinah selama 12 tahun dan selanjutnya di bawah perlindungan Ayahandanya selama 19 tahun.
“Inti Manusia” : (Syath) Bertempat di dalam rasa yang begitu dalam (rasa bertempat di dalam roh dan roh bertempat di dalam qalbun nuraniyun), merupakan nyawa manusia itu sendiri. “Inti manusia” ini tempat asalnya dari Diri-Nya Dzat Al Ghaib Yang Wajib WujudNya. Antara “Inti Manusia” dengan DiriNya Dzat Yang Al Ghaib dan Allah AsmaNya sama sekali tidak ada jarak dan juga tidak ada batasnya. Bagaikan kertas dan putihnya. Bagaikan sifat dan mausuf. Dengan mengetahui jati dirinya merupakan benih fitrahnya sendiri, inti manusianya sendiri, yang tempat asalnya dari Tuhan Dzat Yang Maha Rahman, dengan sendirinya pasti tahu terhadap Diri Tuhannya sebagai tempat asal usulnya sendiri.
“Iqra’ bismirabbikalladzi khalaq” : 1. Ayat pertama yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw; yang artinya (harafiah); “bacalah dengan nama Tuhanmu Yang Menciptakan”; 2. (Syath) Membaca keberadaanNya. Keberadaan Ada dan WujudNya Dzat Yang Maha Esa, Dzat Yang Al Ghaib, yang oleh Malaikat Jibril dibisikkan kedalam dadanya lewat terlinga kirinya. Kemudian secara turun menurun sebagaimana yang dilakukan al-Hadi hingga kini kepada yang dikehendaki.
Istighfar : 1. Memohon ampun; 2. Memohon ampunan Zat Yang Maha Suci untuk menutupi dosa dan kesa-lahannya dan menghapuskan konsekuensi-konseku-ensi dosa dan kesalahannya.
Ismu Dzat : (Syath) Dzikir keempat dari tujuh macam dzikir (Dzikir dalam Syththariah). Yaitu melafalkan Allah (sebanyak 7 kali). Arah yang dipukul dagu tepat di tengah-tengah dada. Mengarah pada ruh yang keberadaannya di dalam hati nurani. Menya-darkan dan memahi bahwa ruh yang menandai ada-nya hidup dan kehidupan dengan ke luar masuknya nafas dalam dada, lalu karena itu wujud jiwa raga mempunyai daya dan kekuatan, ini semua adalah Min Ruuhihi (Daya dan KekuatanNya Allah Swt).
Itsbat : (Lih. Illallah)
Itsbat Faqod : (Syath) Dzikir ketiga dari tujuh macam dzikir (Dzikir dalam Syththariah). Yaitu “Illallah” yang dilakukan sebanyak 7 kali. Dipukulkan ke dalam hati nurani dengan dagu. (Lih. Thawaf). Bermaksud mempetegas, bahwa hanya Diri-Nyalah (IsiNya Huw) Yang Wujud dan Yang Ada, sehingga hati yang menjadi markas besarnya nafsu law-wamah benar-benar diam, tidak mengganggu perja-lanan dan cita-cita hati nurani, ruh dan rasa dalam tujuan mendekat sehingga sampau ma’rifat kepada-Nya.
Itba’ : (Syath) Mengikuti, mencontoh dalam ucapan dan tingkah laku Rasul – Guru Yang Hak dan Sah sebagai wakil Rasul.
Iyyakana’ budu waiyyaakanasta’in.: 1.(Syath) Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan. Ada-lah ungkapan hamba yang pandai bersyukur, ridha dan ikhlas kepadaNya. Juga ungkapan hamba yang secara nyata rasa hatinya mengenali Ada dan Wujud DiriNya. Ungkapan hamba yang deple-deple dan pasrah bongkokan kepadaNya. 2. (Syath) Hanya kepada Eng-kaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan. Sebab kami menyadari bahwa kulluman ‘alaiha faanin Wayabqo wajhu Rabbika dzul Jalali wal ikraam (Q. S. Ar- Rahman 26-27).
Kami menyadari dengan seyakin-yakinnya dalam rasa ini. Dengan ajaran dariMu lewat Utusan yang Engkau tugasi itu bahwa Huwal awwalu Huwal-akhiru, Huwa adzdzahiru Huwa al-bathinu. Hanyalah DiriMu Satu-satuNya Dzat Yang Wajib WujudNya yang meskipun Al Ghaib dekat sekali dalam rasa hati sebab selain DiriMu. Termasuk wujud diriku dan apa saja yang menempel disini, sebenarnya memang tidak wujud dan tidak ada (Engkau adakan Wujudnya adalah sebagai ujian untuk dapat lulus ditiadakan, agar tidak menjadi hijab yang mematikan hati untuk menemuiMu lagi).
Karena itu betapa al-fakirnya hambaMu ini. Kalau sekiranya tidak hanya untuk menyembah kepada-Mu, maka hidup kami akan sia-sia dan sesat selama-lamanya. Maka aku akan selalu nggandul kepadaMu. Sebab betapa keadaan hidup yang aku jalani. Semua tergenggam ditanganMu, maka hanya kepada-Mu aku mohon pertolongan dan kasih sayang.

Kamus Sufi Huruf H

Al- Hadi : 1. Pemimpin, 2. Penunjuk jalan, 3. (Syath) Yang Maha Memberi Petunjuk. Dia yang memandu hamba-hamba terpilihNya untuk mengetahui dzat-Nya sehingga mereka dapat merujuknya sebagai saksi atas segala sesuatu, karena Dia memandu bagian terbesar hamba-Nya ke hal-hal yang telah diciptakanNya, sehingga mereka dapat merujuk hal-hal ciptaan sebagai saksi atas Dzat-Nya; dan juga memandu setiap ciptaan ke apa yang dibutuhkannya untuk memuaskan kebutuhan-kebutuhannya; 4. Sa-lah satu Nama Indah Allah (asmâ al-husnâ).
Al Hafizh : 1. Yang Maha Pelestari, Yang Maha Melin-dungi, Yang Maha Menjaga; adalah penjaga sem-purna (hafizh). 2. Salah satu Nama Indah Allah (asmâ al-husnâ).
Hairah : 1. Kebingungan atau keheranan; 2. Menunjukan sebuah momen yang sangat membingungkan ketika pikiran berhenti bekerja dan tidak mampu menemu-kan jawaban atas kebuntuan spiritual, yang hanya dapat dicapai atas rahmat Allah; 3 Puncak kebi-ngungan dimiliki oleh kaum arif dan para pecinta Tuhan; 4. Menurut Syekh Abdurrauf Singkel (washitah ke 29), hairah dan al-‘ajz (merasa dan mengetahui dirinya lemah) dua hal ini merupakan puncak tercapainya makrifat kepada Allah
Hajj (haji) : 1. Perjalanan ke Mekah dalam rangka me-nunaikan ibadah haji (rukun Islam ke 5); 2. (Syath) Perjalanan puncak menuju pengetahuan tentang Allah yang bersemayam di hati nurani, ruh dan rasa; 3. (Syath) Panggilan Allah untuk membuktikan ‘arifun billah. Sebab al Hajju ‘arafatu. Prakteknya harus wukuf di padang arafah. Berhenti sejenak dari segala urusan dunia, untuk kembali konsentrasi sepenuhnya pada Allah Sang Pencipta. Wukuf berarti berhenti. Menghentikan semua hal yang menjadikan hijabnya mata hati hingga tidak akan dapat menyaksikan DiriNya Illahi. Semua rukun haji merupakan simbol-simbol untuk mencapai keadaan tersebut.
Al Hakam : 1. Yang Memutuskan Hukum; hakim yang mengadili dan menuntut balas, yang kekuasaannya tidak ada yang dapat menggulingkannya dan keten-tuannya tidak ada yang dapat mengubahnya. 2. Salah satu Nama Indah Allah (asmâ al-husnâ).
Hak Allah : 1. (Syath) Kewajiban-kewajiban manusia yang diperin-tahkan-Nya; 2. (Syath) Meninggalkan larangan-larangan-Nya; 3. (Syath) Hak untuk dike-tahui wujud Dzat Al-Ghaib yang sangat dekat sekali dan ditempatkan pada tempatnya hingga dapat me-menuhi perintah-Nya sebagaimana QS. Al A’raf, 205.
Hak Rasullah SAW : 1. (Syath) Risalahnya tersebar /disampaikan hingga hari kiamat. 2. (Syath) Hak untuk membimbing umatnya hingga kiamat dan su-paya selalu tetap berada pada tempatnya, ditengah-tengah kaumnya; 3. (Syath) Berkenaan dengan ada-nya Imam (penerus Rasul) yang selalu ada secara gilir gumanti dalam sebuah rantai silsilah sejak Nabi Muhammad SAW hingga kini sampai kiamat nanti.
Hak Malaikatan : (Syath) Alam ajaib yang ditunjukan Allah kepada seseorang yang dikehendaki-Nya, yang dibukakan sehingga tahu bicaranya segala makhluk Tuhan termasuk segala macam tumbuh-tumbuhan, segala macam binatang. Pandai dan wasis berbicara dengan segala bahasa manusia dan bahasa hewan serta tumbuh-tumbuhan.
Hak Mardus Sarpin : (Syath) Alam ajaib yang ditun-jukan Allah kepada seseorang yang dikehendaki-Nya; akan mengetahui segala macam penyakit beserta obatnya.
Hak Perdewaan : (Syath) Alam ajaib yang ditunjukan Allah kepada seseorang yang dikehendaki-Nya; akan membuka pengetahuan tentang aji jaya kawi-jayan, sakti mandra guna, bisa terbang, menghilang, digdaya tidak mempan segala macam senjata, dapat pergi kemanapun dalam sekejap mata; gunung dirukul hancur, laut diciduk asat.
Hak Wisnu : (Syath) Alam ajaib yang ditunjukan Allah kepada seseorang yang dikehendaki-Nya, yang akan membuka hijab sehingga ia akan tahu dan mengerti apapun yang akan terjadi. Contoh mengetahui isi hati orang, kehendak tengu di atas langit lapis tujuh.
Hakekat : 1. akar kata haq dapat berarti milik atau kepu-nyaan; benar atau kebenaran; 2. Kebenaran Illahi. 3. (Syath) Terbukanya kesadaran hamba atas kesung-guhannya dalam menjalani lakon dan pitukon atas perintah Gurunya yang hak dan sah bahwa hake-katnya Yang Bisa Yang Kuat, Yang Memiliki Segala Maujud, Yang Berbuat (tandang), Yang Ber-gerak (obah osik), bahkan yang Ada dan Wujud hanyalah DiriNya Dzat Yang Al Ghaib Yang Allah AsmaNya. 4. (Syath) Hati nurani, roh dan rasa yang telah berfungsi untuk selalu mengingat-ingat dan menghayati DiriNya Dzat Al Ghaib dan Mutlak WujudNya.
Al Hakim : 1. Yang Maha Bijaksana; 2. Salah satu Nama Indah Allah (asmâ al-husnâ).
Hal : 1. Keadaan mistis; 2. Keadaan spiritual yang me-nguasai hati. Hal masuk masuk kedalam hati sebagai anugerah dan karunia dari Rahmat Allah yang tidak terbatas pada hambaNya. Hal tidak dapat dicapai melalui usaha, keinginan atau undangan. Ia datang dengan tidak diduga-duga dan pergi tanpa diduga; 3. Kejadian tersembunyi yang, dari alam lebih tinggi, kadang-kadang turun ke hati murid, datang dan pergi sampai ketertarikan Illahi memba-wanya dari tahapan paling rendah menuju ketahap-an paling tinggi. (lih. tujuh macam pendakian).
Al Halim :1.Yang Maha Penyantun; Dia yang mengamati kedurhakaan orang-orang yang durhaka dan mem-perhatikan yang menentang perintah, namum Dia tidak terdorong untuk murka dan amarah tidak me-nguasai-Nya; ketergesaan dan kesembronoan tidak ada pada Diri-Nya yang mengakibatkan Dia segera memberikan balasan, meskipun Dia sepenuhnya mampu melakukan hal tersebut. 2. Salah satu Nama Indah Allah (asmâ al-husnâ).
Al. Hamid : 1. Yang Maha Terpuji; Dia yang terpuji. Allah Swt. adalah Yang Terpuji, karena Dia memuji diri-Nya sejak azali dan karena hamba-hamba-Nya memuji-Nya untuk selamnya. 2. Salah satu Nama Indah Allah (asmâ al-husnâ).
Al Haqq : 1. Yang Maha Benar; Dia merupakan lawan kepalsuan; 2. Salah satu Nama Indah Allah (asmâ al-husnâ).
Hasad : 1. Dengki; 2. Suatu keadaan psikis ketika sese-orang menginginkan hilangnya suatu karunia, kemampuan atau kebaikan, secara nyata atau kha-yal, yang dimiliki oleh orang lain.
Al Hasib : 1. Yang Maha Membuat Perhitungan; Dia yang mencukupi karena Dia adalah yang dibutuh-kan apa yang dimiliki-Nya. Allah Swt. adalah yang mengukur setiap sesuatu dan Dia yang mencuku-pinya. 2. Salah satu Nama Indah Allah (asmâ al-husnâ).
Hati ‘adam : 1. (Syath) Hati yang membuktikan kebenar-an kalimat tauhid; membuktikan apa saja, akon-akon dunia dan wujud jiwa raga, zat, sifat dan af’al-nya hamba, semua telah mati, semua telah tiada (‘adam)
Hati yang bening : (Lih. Tashfiatul qalbi)
Hati Nurani : 1. (Syath) Hati jantung, letaknya tepat ditengah-tengah dada, tandanya detak jantung. 2. (Syath) Wujud lembut yang dibangsakan gaib, tetapi bukan Al-Ghaib, bukan Diri-Nya Tuhan Zat Yang Al-Ghaib; yang dijadikan Allah dari cahaya. Supaya wataknya seperti para Malaikat-Nya, harus diisi dengan ilmu yang menjadikannya terbuka supaya dapat tembus langsung pada keberadaan Diri-Nya, Zat Yang Al-Ghaib yang sangat dekat sekali dengan rasa hati. Hati nurani ini kewajiban-nya adalah melaksanakan tarekat (lih. tarekat). Af’al-nya selalu mengajak kepada kebajikan, sifat-nya ya’rifullaha, zatnya muqabilatun ilallah. Hati ini ‘adam (lih: hati yang ‘adam)
Hati Sanubari : 1. (Syath) Hati yang wataknya menuruti keinginan-keinginan jasmani-lahiriah.
Al Hayy : 1. Yang Mahahidup; 2. Salah satu Nama Indah Allah (asmâ al-husnâ).
Hidayah : 1. Petunjuk; 2. Berkaitan dengan petunjuk dan bimbingan dari Allah.
Hijab : 1. Tutup; tirai; kain selubung; cadar; 2. (Syath) Sesuatu yang menghalangi hati seorang hamba terhadap Tuhan-Nya Dzat Al Ghaib Yang Wajib Wujud-Nya.
Al-Hikmah : 1. Hikmah; 2. Berkaitan erat dengan keadilan, bermakna “berbuat tepat sesuai dengan waktunya”. Hikmah adalah keseimbangan sempur-na antara ilmu dan amal.
Huwa : 1. Dia; 2. Dia yang tersembunyi di dalam hati, naluri atau suara hati; 3. Ia adalah diri tinggi wujud ghaib. Huwa menunjukan esensi itu sendiri yang senantiasa berada dalam kegaiban dan tetap tidak terbandingkan pada dirinya sendiri; 4. (Syath) Dia yang AsmaNya Allah, Yang Wajib WujudNya Dzat Yang Al Ghaib.