Minggu, 02 Oktober 2011

Mengasingkan Hati Dari Kesibukan Tak Berarti

"Tiada yang dapat memberi manfaat bagi seseorang kecuali beruzlah. Sebab dengan beruzlah manusia dapat berpikir dengan jenis."

Tentu engkau sudah tahu makna beruzlah, yaitu mengasingkan diri. Namun seringkali engkau menfsirkan dengan cara berpikir dangkal. Engkau meninggalkan anak dan istrimu, bahkan menelantarkan mereka. Lalu pergi ke gunung-gunung, ke dalam hutan, dan masuk ke goa. Tujuanmu menghindari kesibukan manusia, menyepi, bertapa atau bersemedi. Padahal islam tidak mengenal amalan bertapa atau bersemedi.
Oleh karena enkau ingin menjernihkan hati dan ingin menghindar dari hiruk pikuk dunia, lalu engkau pilih beruzlah. Engkau pergi ke tempat terpisah dengan manusia. Namun anak istrimu kau biarkan kelaparan. Kewajibanmu terhadap sesama manusia engkau abaikan.
Badanmu memang terpisah dari keramaian dan lalu-lalang pergaulan sesama manusia. Namun hatimu tak bisa membendung keluar masuknya pikiran yang berpangkal tentang duniawi. Inipercuma! Tak berguna! Padahal engkau berniat untuk mengheningkan dan menjernihkan hatimu agar lebih dekat kepada Allah. Tetapi tak mungkin, selama ada tali pengikat di hatimu terhadap duniawi, maka jalan pikiran tak akan bisa terbendung. Permainan pikiran yang mengganggu itu silih berganti, datang dan pergi. Justru hatimu bertambah ramai oleh pikiran duniawi.
Uzlah yang seharusnya engkau lakukan adalah menghinakan hati dari keramaian pikiran duniawi. Tak harus uzlah ke tempat sepi. Namun Bagaimana caranya agar hatimu terbebas dari debu-debu dosa, terbebas dari kebingungan dan kekhawatiran terhadap takdir Tuhan, lepas dari hasrat dan ambisi duniawi, serta terhindar dari syirik.
Heningkan hatimu dan cobalah untuk mengekang hawa nafsu. Hati perlu diheningkan, kemudian diisi dengan perenungan dan peningkatan kesadaran kepada Allah.
Ketika melakukan perenungan, maka yang paling penting adalah engkau harus benar-benar musahabah (introspeksi diri). Sudah jauhkan dirimu meninggalkan Allah karena permainan hidup di dunia yang membutuhkan energi dan pikiran? Pengalaman lahir itulah yang harus diendapkan menjadi jernih sehingga batinmu bercahaya.

Diamil dari kitab/buku " Intisari Kitab Al-Hikam.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar